Terbaru

Ketaatan Menghancurkan Tembok (Yosua 6:1-27)











Fokus Hidup - "Apa yang menjadi persoalan hidup kita saat ini? Mungkin kita berpikir tidak ada lagi jalan keluar. Benarkah? Jika Anda merasa diberkati melalui renungan yang berjudul Ketaatan Menghancurkan Tembok ini, bagikanlah ke sosial media (Facebook, Twitter, Google+, dll.) Anda, agar ada banyak orang yang juga dikuatkan melalui renungan ini."


Kisah tentang runtuhnya tembok Yerikho dianggap  sebagai cerita dongeng oleh para pengkritik Alkitab. Hal ini, tentu dapat mempengaruhi iman, sehingga sebagian orang Kristen meragukan kebenaran Alkitab. Namun, sanggahan para pengkritik dapat diabaikan dengan adanya bukti sejarah.

Pada tahun 1931, seorang arkeolog, yang bernama John Garstang menemukan reruntuhan tembok Yerikho. (Baca juga: Teologi Paulus dalam Surat Titus)

Melalui penemuan tersebut, terbukti bahwa benteng Yerikho tersebut pernah ada dan terdiri dari dua lapis tembok. Tembok luar tebalnya 6 kaki atau 1,8 meter. Tembok dalam tebalnya 12 kaki atau 3,6 meter. Jarak antara tembok luar dan tembok dalam adalah 12-15 kaki atau 3-6 meter. Sedangkan, tinggi tembok adalah 30 kaki atau 9 meter.

Berdasarkan ukuran tersebut, ternyata tembok Yerikho sangat tebal, kuat, tinggi, dan kokoh, tidak mungkin hancur jika hanya dengan ribuan suara sangkakala dan teriakan atau sorak sorai orang banyak, tentu diperlukan alat untuk menghancurkannya.

Akan tetapi, tembok Yerikho hancur tanpa menggunakan alat khusus, melainkan oleh ketaatan bangsa Israel, dibawah kepemimpinan Yosua. (Baca juga: Menikmati Hidup Bersama Tuhan)

Nama Yosua adalah Hosea Bin Nun, namun Musa menamainya Yosua (Bil. 13:16). Sejak usia muda, Yosua telah mendedikasikan dirinya untuk menjadi abdi Musa. Ia yang menggantikan Musa dan memimpin Bangsa Israel masuk ke tanah Kanaan.

Dalam mengemban tugas baru, Yosua memulai kepemimpinannya dengan keteguhan hati dan ketaatan. Iman yang dibangun di dalam dirinya dilandaskan oleh ketaatan, sehingga ia dapat melakukan perkara besar bersama Tuhan. Diantaranya, runtuhnya tembok Yerikho dibawah kepemimpinannya.

Tuhan berfirman kepada Yosua bahwa Yerikho akan diserahkan kepada bangsa Israel, namun problem yang dihadapi, negeri yang akan diserahkan, dihalangi oleh tembok yang kokoh seperti yang dijelaskan di atas.

Di luar logika, Tuhan menyuruh Yosua dan bangsa Israel mengelilingi tembok Yerikho tujuh kali dalam waktu tujuh hari. Selama 6 hari 1 kali mengelilinginya, sedangkan di hari ketujuh haruslah mengelilingi selama tujuh kali.

Pada hari terakhir dan pada putaran terakhir, seluruh bangsa Israel bersorak sorai. Alhasil, tembok Yerikho runtuh. Mengapa demikian? Apakah karena efek suara? (Baca juga: Melangkah Pasti dalam Ketidakpastian)

Runtuhnya tembok tersebut, tentu karena kuasa Tuhan. Dia yang berkarya sehingga tembok Yerikho hancur. Namun, tidak terlepas dari tindakan ketaatan Yosua. Ketaatan Yosua dan bangsa Israel kepada Tuhan mendatangkan kuasa-Nya.

Demikian juga kita, agar dapat melihat kuasa Tuhan yang ajaib, dibutuhkan iman yang disertai dengan ketaatan. (Baca juga: Sang Miliuner Menjadi Gelandangan

Ketaatan yang dilandaskan oleh iman yang teguh mendatangkan kuasa Tuhan. Ketaatan pula yang dapat membawa kita pada rencana Tuhan yang indah. Tembok apa yang menghalangi kita untuk mengalami kemenangan rohani? Milikilah ketaatan.


DOA
Bapa sorgawi, mampukan aku untuk melihat rencanaMu di setiap persoalan yang kuhadapi, sehingga aku tetap berserah kepadaMu. Dalam nama Tuhan Yesus aku berdoa. Amin.

No comments